REVIEW BUKU PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS by Paulo Freire


REVIEW BUKU PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS by Paulo Freire

Buku education of the oppressed atau sering disebut dengan pendidikan kaum tertindas yang dituliskan oleh Paulo Freire dengan pengatar F Danuwinata membahas mengenai humanisme yang sangat kompleks di mana para kaum penindas akan selalu menindas kaum yang tertindas dalam bab ini dituliskan adanya peran yang tinggi lebih menonjol di bandingkan yang tidak mempunyai peran sekalipun.

Dalam komponen per-bab buku ini mempunyai karakteristik yang berbeda, penulis mengetahui permasalahan terutama bidang pendidikan yang masih sangat krusial namun penulis juga memberikan solusi yang sangat solutif untuk para pembaca buku ini. Pada bab kesatu ia menuliskan mengenai tema humanisme dan pemolaan itu terjadi di dunia pekerjaan maupun pendidikan, dimana sang penguasa akan tetap menjadi penguasa yang sangat terhormat dan sangat dihargai oleh segala kalangan sedangkan bawahan adalah kaum yang terkena penindasan oleh sang penguasa, mentaati aturan yang telah dibuat kemudian menjalani dengan baik, tanpa terjadi pemberian kritik dan saran kepada penguasa karena memang pada dasarnya kaum bawahan memang sudah nyaman dengan posisi yang telah dikuasi oleh penguasa tersebut. Sistem gaya bank disekolah pun terjadi dengan pendidik menabung (memberikan materi) dengan peserta didik kemudian di akhir pendidik mengambil kembali tabungan tersebut. Sistem pendidikan seperti ini penulis memberikan solusi yaitu  dengan metode pendidikan hadap masalah dimana siswa berhak menyampaikan kritik saran ataupun pertanyaan yang ingin diajukan kepada seorang guru agar komunikasi timbal balik antara pendidik dengan peserta didik terjalin dengan baik.
Dalam suatu instansi pendidikan, guru adalah sebagai pencerita dan murid hanya sebagai pendengar sistem seperti ini sangat tidak efektif jika dilakukan terus menerus, pendidikan yang membebaskan adalah salah satu solusi yang ditawarkan dengan pendidikan tersebut siswa tidak hanya mendapatkan ilmu dari guru saja namun sifatnya adalah berbagi ilmu, siswa patut untuk menyampaikan argumen dan opini yang ia miliki yang pada dasarnya guru juga harus banyak belajar dan mendapatkan ilmu dari murid yang diajarkan. Penulis juga menuliskan bahwasannya harus adanya dialog agar tidak terjadi anti dialogis yang tidak komunikatif antara guru dan murid. Nah ini penting untuk dilakukan agar peran seorang siswa juga penting untuk menyukseskan pendidikan sekarang tidak hanya dari seorang peran guru memberikan materi saja namun murid berhak menyampaikan asumsi yang ada dipikirannya, agar murid juga mampu berpikir kritis dalam artian tidak hanya menerima ilmu dari hanya satu peran saja namun juga mampu berpikir dengan argumen yang telah dia alami sesuai dengan pemikirannya.
Selanjutnya, banyak sekali masalah yang ditemui dalam pendidikan penulis mengulas kembali dan membandingkn antara anti dialogis yang berarti anti komikatif dengan pendidikan dialog yang  berarti terjadi timbal balik antara pendidik dan peserta didik. Didalam anti dialogis adanya sistem dunia yang penuh dengan kepalsuan dalam artian para kaum penindas adalah tetap menjadi penguasa selamanya dengan retorika perkataan dan sikap nya kepada kaum yang tertindas maupun sebaliknya kaum penindas akan tetap menjadi pendengar maupun penonton selamanya atas dunia kehidupannya. Kemudian, terjadinya  perkelompokan antara satu dengan yang lain dan adanya peringkatan yang membuat kaum tertindas makin tertidas, contoh dalam suatu instansi sekolah di indonesia masih menerapakan sistem peringkat kelas, pengalaman ketika sekolah dasar yang mendapatkan peringkat ada orang yang berkuasa dikelas namun yang tidak mendapatkan peringkat akan tetap berada dibawah, adanya jenjang tersebut terjadi penekanan pada siswa yang tak mampu lebih berekspresif lebih aktif. Namun, penulis disini mencari solusi dengan cara pendidikan dialogis harus diterapkan dengan cara kerja sama yang erat antara para penindas dan tertindas harus terjalin hubungan yang baik, lalu ada juga persatuan untuk membebaskan dalam artian semua bebas berasumsi sesuai dengan fakta empirik yang ada agar tujuan suatu pendidikan akan terwujud sebagaimana mestinya, selanjutnya adanya organisasi dalam  hal untuk mendukung pendidikan bukan dalam organisasi ada organisasi namun mempunyai tujuan yang sama untuk diraihm lalu yang terahir adalah aksi kebudayaan yang memberikan solusi pada kontrakdisi pemeran kurang baik dalam lingkungan tersebut.



Jual BUKU PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS - PAULO FREIRE - Kota ...

Komentar