KETIKA AKU JATUH DAN HARUS BANGKIT

Aku bernama Arni destika ayusih, mahasiswi di salah satu universitas negeri di Indonesia tepatnya di Provinsi Bengkulu. Menjadi seorang dengan gelar mahasiswa aku merasa sedang mencari dan dicari, belajar dan mengajar, menyelami kehidupan sejuta umat dari abad ke abad hingga akhirnya aku mampu bertahan di dalam kelitnya hidup. Menjadi mahasiswa itu, ah, tak terkatakan hebatnya.
Di gedung-gedung besar nan kokoh di kampus  yang rindang ini, semua yang kutemui adalah kaum intelek berbakat, mereka adalah orang-orang yang mewakafkan diri sepenuhnya untuk berjuang, belajar, habis-habisan melawan kebodohan, mengentaskan kemiskinan, mengritisi setiap kesalahan dan siap memberikan jutaan solusi yang berkelebat di kepala mereka. Mereka yang kutemui di sini adalah mereka yang dikirimkan Tuhan untukku agar dapat terselip sedikit rasa iri di hatiku hingga aku merasa perlu mengubah kebiasaanku dan mulai berjuang habis-habisan untuk menjadi hebat.
Melihat mereka yang hebat dan terlihat memiliki banyak kelebihan, tentu saja rasa untuk menjadi seperti mereka tertanam di benakku. Di kampus inilah aku ditempah, diasah dan perlahan diubah menjadi sesuatu yang lebih bernilai dengan semua prosesnya yang meski belum sepenuhnya kujalani, aku yakin akan menyakitkan. Tapi, bukankah sebuah kristal harus menahan tekanan dan temperatur yang tinggi dalam prosesnya? Bukankah sepotong besi harus tahan dipanaskan dan dibanting berkali-kali untuk menjadi pedang yang tajam? Dan bukankah seekor kerang harus rela menahan sakit yang teramat sangat untuk mendapatkan mutiara? Aku selalu meyakinkan diriku, aku bisa melewati semuanya, Tuhan telah berjanji dan tak akan mengingkari, semua akan indah pada waktunya.

Semua manusia pasti pernah jatuh, hanya sebagian manusia saja yang memilih untuk bangkit dan berjuang lagi, sebagiannya lagi lebih memilih untuk terus terpuruk menangisi kegagalan, lupa bahwa kakinya tidak lumpuh, hanya luka sedikit saja. Aku ingin menjadi orang yang terus bangkit ketika jatuh. Terus berjuang hingga kata gagal dan jatuh yang menyerah.
Nini, IP lu berapa?” seorang teman datang menghampiriku seusai liburan semester satu, aku sudah menduga pertanyaan-pertanyaan seperti ini sebelumnya. Klise sekali. Saat itu aku benci sekali mendengarnya, aku merasa benar-benar hina sebagai mahasiswa dengan IP di bawah tiga. Teman-teman lain yang kutemui di sepanjang jalan menanyakan hal yang sama, argh! Kepalaku rasanya mau pecah. Hanya senyuman manis saja yang kuberikan kepada mereka sebagai jawaban. Terserah seperti apa kesimpulan mereka, aku benar-benar tidak peduli. Kebanyakan orang menganggap tidak masuk akal jika aku yang dari jurusan ‘gampang'  kata mereka mendapatkan IPK di bawah tiga. Yah, bukankah manusia memang begitu? Gampang sekali meremehkan padahal tidak tahu apa-apa.  mungkin benar jurusanku ini semua mata kuliahnya gampang, tapi itu tidak berlaku untukku yang jelas-jelas sulit sekali menerima kenyataan bahwa aku berada di jurusan ini. Kata mudah tidak berlaku bagiku yang harus menyesuaikan diri dengan semua mata kuliah yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Semua tidak mudah kawan, sungguh. Aku seringkali mengutuk-ngutuk pada diri sendiri, kenapa harus memilih jurusan ini? Andai waktu dapat diulang, aku tak akan membuat diriku merasa salah jurusan seperti ini. Oh ya ampun!  aku benar-benar bodoh. Untuk kesekian kalinya aku mengecewakan kedua pembesarku. Orangtua yang tak pernah sekalipun mengecewakanku.

Sinar matahari pagi menelisik masuk melalui celah -celah tirai di jendela kamarku, hangatnya membangunkanku dari mimpi buruk yang akhir-akhir ini selalu kualami.
Untuk kesekian kalinya aku berpikir lagi dan lagi, dan untuk kesekian kalinya pula aku menyimpulkan dan meyakini hal yang sama, bahwa Tuhan memberikan semua ini pasti ada hikmahnya. Dan semua tentu saja akan indah seiring perjuangan dan perubahan yang kulakukan. “Tuhan pasti adil, selalu adil, aku percaya. Tuhan...kumohon tuntun aku ke jalan Mu, ajarkan aku untuk menjadi manusia yang lebih baik", kalimat itu selalu saja meletup dari bibir ku, menghujam hati dalam-dalam.


SUASANA BARU
Semester baru, semangat baru, dan jiwa yang baru. Aku mengikuti pendaftaran sebuah organisasi besar di kampusku, aku melepas semua keragu-raguan dan menjadi lebih percaya diri. Setidaknya sedang berusaha percaya diri.
Alhamdulillah, Tuhan akhirnya memberikan aku kesempatan untuk bertemu dan bekerja sama dengan orang-orang hebat dan berkompeten di bidangnya.  Ini adalah salah satu pembangkit semangatku untuk mengawali segala sesuatu yang lebih baik, memulai kehidupan kampus yang lebih kompleks.
Suatu ketika aku mengikuti seminar bedah buku, “Tuhan sudah menyiapkan skenario kehidupan kita kedepannya yang lebih baik."  kata-kata sang pemateri terngiang-ngiang di telingaku, Wanita dengan khas sunda nya itu menceritakan sekelit kehidupannya, ia menceritakan pengalaman dan perjuangannya hingga ia bisa dikatakan sukses seperti sekarang ini. Jatuh bangun ia berjuang, banyak yang mencela dan meremehkan kemampuannya. Namun wanita berhijab ini tak peduli, ia tak pernah patah arang dan terus berjuang untuk mewujudkan apa yang ia impikan. Penulis muda ini benar-benar menginspirasiku, aku bersyukur Tuhan mempertemukan aku dengannya melalui seminar ini.
Mulai saat itu aku selalu tertarik mengikuti seminar yang ada dikampusku untuk melecut semangat agar tetap berjuang. Mulai dari seminar motivasi, seminar keilmuan hingga seminar entreperneur kuikuti sebaik-baiknya.

Pernah aku dan teman-teman perwakilan universitas mengikuti pelatihan kepemimpinan yang merupakan salah satu program kerja BEM KBM  kampusku, dimana aku sendiri berkecimpung di dalamnya. Dalam hal ini aku merangkap sebagai panitia dan peserta. Tidak masalah bukan? Hihi.
Hari pertama diisi dengan seminar nasional. Pembicara hebat kali ini berasal dari luar provinsi, salah satunya adalah Ketua KPK Indonesia. Sepanjang seminar kami berdiskusi tentang permasalahan yang ada di negara tercinta ini dan solusi untuk mengatasinya. Pukul 12.00 Wib seminar selesai. Aku dan teman-teman langsung pulang untuk menyiapkan semua barang yang diperlukan untuk lima hari ke depan. Kami pun berangkat menuju lokasi yang masih dirahasiakan oleh panitia pada pukul 14.00 wib.
Awalnya aku tidak yakin acara ini akan seru, penuh canda tawa, ataupun menyisakan banyak kenangan manis. Aku benar-benar tidak yakin jika mengingat persiapan agenda nasional ini kurang maksimal. Kulangkahkan kaki munuju kamar yang sudah disiapkan, di sini aku bertemu dengan orang asing, orang-orang yang tidak biasanya aku temui. Aku bertemu dengan mereka yang dari berbagai jurusan berbeda, dan aku yakin, mereka adalah orang-orang hebat yang untuk kesekian kalinya tuhan pertemukan padaku. Menemui berbagai keasingan seperti ini membuatku merasa... entahlah, bisa dikatakan takjub.

Semua peraturan dibacakan, bunyi peluit pun menjadi hal yang sangat ditakuti selama pelatihan ini. Bak terompet sangkakala, semua tergantung bunyi peluit. Gimana ngga takut coba, iya kan?

Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi di awali oleh lengkingan peluit.
Matahari terbenam, dan waktu berlalu. Detik demi detik jarum jam menuju arah selatan, senja menyapa, kami sholat berjamaah di musholah asrama dan dilanjutkan dengan sedikit ceramah atau ilmu islam lalu sholat ashar.
Seusai sholat ashar kami langsung beranjak ke aula asrama untuk mengikuti materi dari Presiden Mahasiswa tahun 2013-1014 bersama rekan-rekan nya, dengan moderator wanita berhijab cantik yakni mbak Alka.
Hari kedua, lengkingan peluit yang nyaring dari depan aula menghantam telingaku, sukses membuat jantungku olahraga di pagi buta. Kali ini bunyi peluit artinya kami harus mengikuti agenda selanjutnya, sebelum agenda itu mulai kami pun diberi waktu untuk sholat subuh berjamaah dan menyiapkan segala hal untuk mengikuti agenda selanjutnya.

Seusai sholat, peluit dibunyikan kembali. Aku bersama kawan-kawan lainnya menuju lapangan untuk melakukan beberapa gerakan senam pagi agar tubuh ini tetap fit dan segar. Kali ini senam akan di pimpin oleh aku dan beberapa peserta lainnya. Seusai pemanasan kami melakukan senam jambore yang di atur oleh salah satu panitia. kami pun berjalan menuju aula asrama  untuk menerima materi kepemimpinan selanjutnya yang diisi oleh alumnus organisasi yang aku  ikuti setelah serentetan rutinitas pagi terselesaikan.

Tibalah hari ketiga, aku mulai bosan dengan kegiatan-kegiatan ini, jujur bosan sekali, semangatpun tidak lagi menbara layaknya matahari Yang terbit di ufuk Timur. Waktu berlalu, aku berkumpul dengan beberapa teman dan panitia untuk berdiakusi sambil menikmati buah-buahan Yang kami petik sendiri dari pohonnya yang tepat berada di depan asrama, tema diskusi kali ini cukup menarik dan tidak membosankan, tentu saja juga menambah wawasanku.
Siang berlalu, langit mulai kelam. Kami dikumpulkan kembali di Aula asrama. Aku dan yang lainnya bersiap-siap karna akan ada sedikit materi dari para panitia dan peraturan dalam mengikuti material ini akan langsung dibacakan. Panitia itu bernama Muvan, kak Muvan membacakan semua peraturan dan instruksi yang harus kami lakukan untuk acara malam ini. Waktu menuju pukul 22.30, tak satupun dari kami yang mendapatkan kesimpulan dari apa yang kak muvan katakan sebelumnya. kami mulai berdebat di aula tersebut, satu-satunya panitia Yang bisa kami tanyai yaitu kak Firian juga tidak memberikan banyak solusi Yang membantu.
Kami yang berada di dalam ruangan bingung harus melakukan apa. “kertas yang diberi panitia tidak boleh di coret, dirusak, maupun dilipat, carilah jawaban yang harus anda jawab dalam kertas ini lalu apakah pertanyaannya? Saya beri waktu 120 menit” kata kak Muvan sebelumnya. Waktu menunjukkan pukul 11.30, itu artinya waktu kami untuk memikirkan itu tinggal 60 menit lagi. Suasana ruangan sangat panas, perdebatan tentang harus diapakan kertas ini terus berlangsung hingga menyulut emosi. Puncaknya seorang peserta bernama Arif tidak tahan lagi terus berdebat dan langsung mencoret kertas beberapa teman lainnya termasuk aku. Dia pun diusir oleh panitia karna terlalu emosi dan merugikan beberapa teman lainnya.  Aku bersama beberapa teman lainnya yang senasib juga keluar dari Aula dan menuju depan kantor asrama. Sesuai aturan yang telah dibacakan oleh kak muvan, Jika kertas tersebut rusak, atau ada tulisan berarti anda tidak lulus dalam ujian ini.
Tidak terima keluar dengan cara seperti ini, aku langsung mendatangi Arif dan menyambarnya dengan pertanyataan penuh emosi bertubi-tubi.
“woii, elu kenapa emosi begitu sih? Kenapa nyoret kertas gue? Elu ngurangi nilai gue, tau gak? Dan elu ngerti artinya kan ?”
“woii, bisa biasa aja gak sih? gue emosi, masalah itu aja susah banget di selesein, yaudah gue coret deh kertas orang yang ada didepan gue, PUAS Lu?!
Emang kurang ajar nih anak, dia yang salah malah dia yang marah-marah.
 “ Apa lu bilang? Dengan elu kayak gitu lu udah merugikan orang lain, elu ga malu diusir panitia, hah ? Ga malu lu ? elu boleh bertindak emosional, tapi jangan merugikan orang lain!!! PAHAM !!!  “
Aku menatapnya lurus-lurus, aku benar-benar tidak bisa menahan emosi yang berkecamuk di dada ku.
oke gue salah, gue terlalu terbawa emosi di dalam aula tadi, sekarang gue minta maaf, dimaafin kaaan ? Bereskan?! ” lanjutnya santai.

“ whaaat? Enak bener Lu ngomongnya. Lu pikir minta maaf dalam Hal ini gampang hah? Oh no! elu gila, sinting kali ya, minta maaf seenak jidat lu aja, elu kira gue apaan hah?!! “

 “oke kita selesaikan besok” seenaknya dia merespon dengan tampang tidak bersalah.

“ Enak banget ya lu, elu pikir gue mau lanjutin permasalahan ini besok? Tidak woiii!! ELU EGOIS. TERIMAKASIH ATAS CORETAN ELU. INI NYAKITIN HATI!!! GUE BENCI DAN GUE  MUAK SAMA LU!!”

“oke sama-sama. resek amat.”
Sumpah, aku benar-benar kesal. Aku berlalu dan menemui panitia untuk bertanya-tanya.
kak, nini ga lolos ya kak ? nilai nini ngga berkurang kan kak? Kak jawab, ini semua apa jawabanya?” aku mendesak panitia, benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Panitia tidak berani berkomentar, “ sudah gapapa, gabung sana sama teman yang udah keluar tadi” cuma itu yang keluar dari mulutnya.

Ketika selesai kami pun yang diluar disuruh masuk kembali ke aula tersebut. Kami dijelaskan dan berkomentar sedikit tentang hal itu, semua mengeluarkan pendapatnya masing-masing.
Jarum jam tepat di arah utara, pukul 00.00 wib. Mata pun semakin lelah, aku dan teman-teman butuh istirahat. Panitia pun mengakhiri acara malam ini dan memberikan kami waktu untuk istirahat.
Hari keempat, Aku dan teman-teman sekamar tergesa-gesa dan saling membangungkan. Dini hari itu bintang bertaburan indah sekali di langit yang. Kami dikumpukan di lapangan depan kantor asrama dan membawa slayer. Ketika tiba di sana panitia memberikan instruksi untuk menutup mata dengan slayer yang kami bawa. Setelah mataku tertutup, aku merasa panitia menarikku kekanan kekiri dan memintaku untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya .
Beberapa menit kemudian kami diminta duduk untuk melakukan renungan suci. Ketika membuka mata kami benar-benar kaget, ternyata posisi kami sudah berbentuk lingkaran, dan ditengahnya ada tulisan NLT 3, National Leadership Training 3, dengan lilin-lilin Yang kilaunya begitu indah. Dengan taburan bintang di langit dan kemilau cahaya lilin, rasanya dini hari ini benar-benar romantis. Aku akui, panitia top banget deh. Hehe

Di akhir rangkaian acara, tiba-tiba Arif si pembuat onar muncul. Ia mengambil sebuah lilin dan memberikannya padaku, “permohonan maaf atas coretan kertas semalam.”, katanya.
cie nini sama arif jadian ya? Romantis banget, Cieeeee” Ria menyeletuk, membuat aku maupun arif tak mampu berkata. Meski sebenarnya malu dan mengutuk-ngutuk Arif dalam hati yang kepedean melakukan semua ini di depan panitia dan semua peserta, sebenarnya aku tidak terlalu peduli. Kami berdua pun sering kali bertengkar dan aku sendiri susah sekali untuk memaafkannya.
Dini hari yang penuh romantika berakhir, Matahari terbit dengan senyum manisnya yang menghangatkan dunia. Aku mengumpulkan keping-keping semangat untuk memulai agenda berikutnya.
Materi berikutnya diisi oleh pak Nanang Mubarok. pak Nanang menghipnotis kami semua para peserta pelatihan kepemimpinan itu.
Dia meminta kami untuk menuliskan kelebihan dan kekurangan dalam suatu kertas dan diberi waktu beberapa menit dan itu harus diisi 30 kelebihan dan 30 kekurangan kita sendiri ..
Agar kita tahu bakat dan kelebihan kita dibidang apa, makanya beliau meminta menuliskan seperti itu. Aku pun kurang mampu menuliskan kelebihan dan kekuranga ku dengan waktu yg telah diberikan. Karna akupun lagi masa-masa nya mencari jati diri, sedang membentuk diri dan mencari apa kelebihan diri ini.
Teman teman pun seperti itu juga belum ada yang mampu menuliskan 30 full, namun pak Nanang tersebut memberi waktu sedikit, oke aku akan mencoba untuk menambah lagi, dan  itu tetap saja tidak mencukupi penuh 30 kelebihan dan 30 kekurangan yang aku miliki..
Tetapi ada teman aku yang full 30, dia pun membacakan nya, dia rajin menulis, hobi olahraga, teater dsb. Wow menakjubkan peserta-peserta disini mempunyai kelebihan-kelebihan yang membuat aku sangat-sangat terpukau akan semua yang ia bacakan, rasa iri dan rasa malu pun pasti ada terutama rasa minder pun membludak saat itu.
Setelah itu sang pemateri memberi instruksi bahwa kertas yang penuh dengan coretan kekurangan tersebuh di sobek kecil kecil lalu dimasukkan ke dalam balon, hembus balon hingga pecah, jika ada teman mu tidak mampu memecahkan balon itu dengan hebusan beri lah semangat agar ia mampu memecahkan balon tersebut..
Sangat sangat lega ketika balon itu pecah, amatlah lega. Semua tulisan kekurangan akan berterbangan entah kemana, berharap kekurangan itu atau hal yang harus di hindaari itu tidak akan terulang kembali dengan hidup ini..
Pak Nanang adalah salah satu motivator aku yg dapat membangun semangat ini menjadi membara, dengan ciri khas bandung nya yang menjelaskan tentang segala hal membuat diri ini mampu bertahan dengan semangat ini hingga sekarang..
Seharian bersama pak Nanang Mubarok asli dari bandung, sangat sangat terinspirasi..

Matahari pun akan tebenam, senja pun akan terlewati sendirinya.

Malam kreativitas seni pun tiba. Disini lah aku dan teman-teman kelompok ku akan melakukan pentas seni kami. Kami pun menampilkan Drama dan ada beberapa musik dari gelas yang di ciptakan oleh teman kelompok saya sendiri dan ternyata kelompok aku sebut saja kelompok “cut nyak din”  itu nilai pentas seni nya yang tertinggi, wow keren bukan, hahahaa
Kelompok cut nyak din pun terdiri dari aku (Nini), Tri, Ria, Intan, Nia, dan ada beberapa teman lainnya, iya bisa dibilang kelompok cut nyak din lah yg terbaik. Hehee
Pentas seni pun terselesaikan hingga pukul 11.30 wib, semua peserta sudah mengantuk , karena sudah terlalu malam. Dan ada tambahan Stand Up Comedi dari teman kita yakni Andri, dengan gaya berbicara khasnya yang dapat membuat kami tertawa terbahak-bahak, iya dialah pria terbaik dalam pelatiahan kepemimpinan itu..

Kemudian hari kelima pun tiba, kita pun mempunyai agenda akan melakukan aksi damai didepan Kejari ( Kejaksaan Negri ). Itu pengalaman pertama aku melakukan aksi didepan media media yang meliput, dan ratusan orang melewati dan heran melihat aksi kami bahwa Wali Kota Korupsi uang Baksos yg sudah ada di berita-berita bengkulu yg sedang hangat sekarang.
Seusai melakukan aksi, kami pun menuju ke tempat wisata salah satu di Kota Bengkulu ini sendiri, yaitu di Tapak Paderi. Disitu lah kami pun berfoto bersama dan bermain games yang di pandu oleh para panitia-panitia nya hingga pukul 16.00..
Pukul 16.30 wib kami pun sampai di lokasi asrama lagi dan mepersiapkan barang-barang kami untuk pulang kerumah masing-masing..
Kemudian kami pun dikumpulkan dilapangan kantor asrama tersebut dan akan brtukar kado kepada sesama peserta..
Ada rasa tak ingin berpisah dengan mereka, waktu lima hari pun tak cukup untuk kami bercerita segala hal yang ada. Hahah~

Pengalaman ini sangat-sangat berarti, bertemu dengan orang-orang hebat, dan berdiskusi bertukar pikiran dengan mereka, aku benar-benar tidak salah pilih..

Seusai pelatihan aku pun tambah semngat untuk melakukan segala hal. berkat teman-teman, pemateri dan semua hal yang sudah terjadi, Aku semakin berani dan PD dengan apa yang aku punya skrang.
Aktif di HIMA dan BEM pun menjadi keputusanku, saat ini yang kuingiankan adalah berprestasi di kampus. Organisasi oke, akademik juga oke.


FINISH~












Komentar